Posted by: jogjaexpo | October 2, 2012

Pembatik Dusun Lopati

Membatik, sudah menjadi pekerjaan dan tradisi perempuan di Dusun Lopati, Trimurti Srandakan Bantul. Para pembatik ini menekuni pekerjaan ini sejak usia belasan tahun hingga paruh baya. Sayangnya, puluhan tahun bekerja menjadi pembatik mereka tetap menjadi pembatik atau buruh batik dan menggantungkan penghasilan pada juragannya.


Prapto wiyono, salah satu pembatik di dusun Lopati, Trimurti Srandakan, membatik sejak mumur 13 tahun. Awalnya Prapto Wiyono bekerja pada juragan batik di Pugeran dan kini melayani toko batik Ambar Arum di Mangiran. Prapto menyelesaikan satu potong kain batik selama kurang lebih 4 hari. Bahan baku mori dan lilin diperoleh dari juragannya sementara pengerjaannya di kerjakan di rumah. Upah pembatikan antara Rp. 10.000 – Rp. 15.000 tergantung pada kerumitan motifnya. Upah ini dibayarkan saat menyerahkan hasil kerjaannya sekaligus mengambil bahan baku mori dan lilin untuk pekerjaan selanjutnya.


Selama ini, Prapto membatik dengan motif sesuai pesanan dengan variasi (isen-isen) kreasinya sendiri. Untuk motif, motif pakem seperti semen romo, truntum, sido asih, parang, srikaton, cendrawasih dikuasinya luar kepala. Prapto menuturkan untuk saat ini motifnya sudah lebih beragam tidak terbatas pada motif pakem namun dia tetap mampu mengikuti.

Pembatik lain yang ada di Lopati yaitu Pujo Sumarto. Sedikit berbeda dengan Prapto Wiyono, Pujo sudah mampu membeli bahan baku mori sendiri dan menjual hasil batiknya ke toko batik Bu Dirjo di gesikan. Kerjasama dengan toko batik ini sudah berjalan kurang lebih 25 tahun dimana dalam satu bulan, Pujo mampu menyelesaikan 12 potong kain batik tulis.

Pujo Sumarto selama ini membatik dalam dua sisi kain dengan motif yang halus. Motif yang dipesan juragan langsung dibatik pada kain mori tanpa perlu dicorek terlebih dahulu. Hal ini karena pengalaman membatik selama puluhan tahun menjadikannya hapal berbagai motif tanpa perlu pola. Dengan motif bolak-balik ini, Pujo memperoleh upah yang lebih tinggi dibandingkan Prapto Wiyono. Juragannya menghargai kain batik tulisnya Rp. 50.000 plus ganti kain mori. Dari penghasilan tersebut, Pujo memperoleh jasa sekitar Rp. 45.000 setelah dipotong biaya pembelian lilin Rp. 5000.

kedua pembatik ini mempuyai kesamaan, dimana belum mampu berproduksi secara mandiri. Besarnya modal menjadi persoalan utama kedua pembatik ini. Potensi pasar yang masih terbuka dan banyaknya tenaga pembatik seharusnya bisa menjadi kekuatan untuk mandiri. Saat ini pembatik di Lopati banyak yang beralih profesi menjadi pedagang atau bekerja diindustri lain.

Info lebih lanjut hubungi :
Prapto Wiyono
Paten, RT 95, Lopati, Trimurti, Srandakan, Bantul

Pujo Sumarto
Paten, RT 97, Lopati, Trimurti, Srandakan, Bantul


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: