Posted by: jogjaexpo | October 1, 2012

Iyan Handicraft – Perajin Aneka Produk Berbahan Enceng Gondok

Dirintis sejak tahun 2000 oleh Supriyono. Setelah sebelas tahun berjalan, usaha ini masih tetap eksis. Produksi barang-barang kerajinan di sini hanya diproduksi berdasarkan pesanan yang masuk. Jadi tidak ada produksi untuk memenuhi stock Pesanan datang dari trading yang akan mengeksport maupun pemesan lokal yang akan menjual langsung produk tersebut pada konsumen.


Kurang lebih ada lebih dari 20 jenis produk yang diproduksi Iyan Handicraft. Jenis produknya antara lain : box baik dengan kerangka besi, kayu maupun tanpa kerangka; keranjang, tempat buah, tempat pakaian kotor, ember untuk mengisi botol minuman, tempat buku, wadah parsel, nampan dan beberapa produk rumah tangga lainnya. Semuanya dibuat dengan menggunakan enceng gondok sebagai bahan baku utama.


Bahan baku enceng gondok semuanya didatangkan dari Rawapening ambarawa. Satu truck enceng gondok dibeli dengan harga Rp. 1.150.000. Sebelum diproses, enceng tersebut terlebih dahulu dijemur di pantai patehan agar menjadi lemas, sehingga mudah dianyam. Demikian dijelaskan Daryati isteri Priyono di rumahnya Rabu (14/03). Selain enceng gondok, bahan lain yang digunakan adalah besi, kayu, tali tiki, tali sigres dan lem.

Kapasitas produksi dalam sebulan menurut Daryati 5.000 – 10.000 unit produk. Sebagian besar dikerjakan secara borongan oleh para ibu disekitar kediamannya. Kami memiliki tenaga kerja borongan sebanyak 300 orang yang mengerjakan proses penganyaman produk. Ongkos anyam antara Rp. 5.000 – Rp. 30.000 tergantung pada tingkat kerumitan produk tersebut. Produk tersebut ada yang sudah diberi warna, namun ada juga yang masih dalam warna alaminya.

Dengan harga jual per unit Rp. 5.000 – Rp. 200.000, Iyan Handicraft dapat meraih omzet Rp. 100 – 150 juta per bulan. Namun demikian menurut Daryati hampir kebanyakan dibayar beberap saat setelah barang dikirim, paling cepat 1,5 bulan, sedikit sekali yang on cash. Tingkat keuntungan rata-rata 10 – 15 % dari omzet penjualan. Walau atas dasar pesanan, tetapi Supriyono dan Daryati tidak pernah sepi pesanan, sehingga setiap hari selalu berproduksi dan kelihatannya juga mereka sudah tidak membutuhkan pangsa pasar lagi.

Selama ini Daryati mengakui bahwa mereka jarang mengikuti pameran. Dampak pameran dirasa kurang mendukung meningkatnya omzet penjualan. Kami lebih mengandalkan relasi pribadi yang kami miliki, baik dengan trading maupun dengan toko-toko yang menjual produk kami. Di Yogyakarta ada satu pelanggan tetap kami yang selalu memesan dalam jumlah besar untuk kemudian dijual kembali melalui toko-toko barang kerajinan langgananannya. (Nura/Fernandez)

——————————————-

Iyan Handicraft : d/a. Kenteng, Gadingsari, Sanden, Bantul.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: